Kediri (24/4). Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah memberikan tanggapan positif atas capaian Kota Kediri yang kembali masuk dalam 10 besar Kota Paling Toleran di Indonesia berdasarkan Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 yang dirilis oleh Setara Institute.
Penghargaan IKT 2025 tersebut diterima oleh Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, di Jakarta, pada Rabu (22/4). Kota Kediri tercatat konsisten berada di peringkat ke-8 nasional dengan skor 5,792, mempertahankan posisi yang sama seperti tahun sebelumnya. Capaian ini menunjukkan konsistensi dalam menjaga iklim keberagaman dan kerukunan di tengah masyarakat.
Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, menyampaikan bahwa stabilitas peringkat tersebut mencerminkan kuatnya komitmen pemerintah dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga toleransi.
“Konsistensi ini menunjukkan bahwa fondasi toleransi di Kota Kediri relatif stabil dan mampu bertahan di tengah dinamika sosial yang semakin berkembang,” ujarnya.
Ia menyatakan bahwa stabilitas peringkat ini merupakan indikator adanya visi yang sama antara kepemimpinan politik, birokrasi, dan masyarakat dalam menjaga iklim keberagaman.
“Konsistensi ini menunjukkan bahwa fondasi toleransi di Kota Kediri relatif stabil dan mampu bertahan di tengah dinamika sosial yang semakin berkembang. Kediri bisa dikatakan sebagai Kota Santri, dan setiap kegiatan keagamaan seluruh unsur agama selalu hadir lengkap. Hal ini menunjukkan kuatnya kebersamaan yang kami miliki,” ujar Mbak Wali, sapaan akrabnya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Ponpes Wali Barokah, H. Sunarto, menyampaikan apresiasi atas capaian yang diraih Kota Kediri.
“Alhamdulillah, capaian ini menjadi bukti bahwa masyarakat Kota Kediri mampu menjaga nilai-nilai toleransi dan kebersamaan dengan baik. Peran semua pihak, termasuk pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat sangat penting dalam merawat kerukunan ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pondok pesantren memiliki kontribusi besar dalam menanamkan nilai-nilai toleransi kepada para santri.
“Di lingkungan pesantren, kami terus menanamkan sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, serta menjaga persatuan. Ini menjadi bagian dari pendidikan karakter yang kami terapkan,” lanjutnya.

Ia juga menyatakan rasa bangga dan syukurnya. Menurutnya, lingkungan pesantren memiliki andil besar dalam membentuk karakter santri yang moderat dan toleran terhadap perbedaan.
“Alhamdulillah, kami ikut bersyukur atas prestasi Kota Kediri yang kembali masuk 10 besar kota paling toleran di Indonesia. Bagi kami di Ponpes Wali Barokah, toleransi bukan sekadar slogan, melainkan praktik sehari-hari,” tegasnya.
“Kami selalu menekankan kepada para santri bahwa mencintai tanah air dan menghormati perbedaan adalah bagian dari implementasi nilai-nilai agama. Capaian ini adalah buah dari kerja keras pemerintah, aparat, dan tokoh agama yang saling bahu-membahu,” imbuhnya.
Sementara itu, Sekretaris Ponpes Wali Barokah, Daud Soleh, menilai capaian tersebut harus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas toleransi di Kota Kediri.
“Kami berharap capaian ini tidak membuat kita berpuas diri, tetapi justru menjadi semangat untuk terus meningkatkan kualitas toleransi dan menjaga keharmonisan di tengah masyarakat yang beragam,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mempertahankan bahkan meningkatkan peringkat di masa mendatang.
“Sinergi antara pemerintah, tokoh agama, lembaga pendidikan, dan masyarakat harus terus diperkuat agar Kota Kediri bisa menjadi contoh kota toleran di tingkat nasional,” tambahnya.
Ia menekankan pentingnya keterbukaan pesantren terhadap dunia luar sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap indeks toleransi.
“Stabilitas peringkat ke-8 ini membuktikan bahwa komunikasi lintas sektoral di Kota Kediri berjalan dengan sangat baik. Kami di jajaran pengurus yayasan dan pondok berkomitmen untuk terus mendukung visi Pemerintah Kota Kediri,” ujarnya.
“Keterbukaan kami menerima kunjungan dari berbagai kalangan, baik akademisi maupun lintas iman, adalah cara kami merawat keberagaman tersebut agar Kediri tetap menjadi kota yang aman dan nyaman bagi siapa saja,” imbuhnya.
Ia berharap capaian peringkat ke-8 IKT 2025 ini menjadi motivasi bagi seluruh pihak di Kota Kediri untuk terus berinovasi dalam program-program penguatan kerukunan, guna mewujudkan target meraih peringkat pertama di masa mendatang. Dengan capaian ini, diharapkan seluruh elemen masyarakat, termasuk pondok pesantren, dapat terus berperan aktif dalam menjaga nilai-nilai toleransi, sehingga Kota Kediri semakin dikenal sebagai kota yang harmonis, damai, dan penuh keberagaman.
“Saya berharap FKUB, Pemkot, dan para pihak terkait untuk mengevaluasi titik lemah setiap indikator penilaian agar ke depan prestasi tersebut bisa lebih ditingkatkan,” tutupnya










