Surabaya (12/5). – Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah Kediri menunjukkan komitmennya dalam mendukung penguatan sistem pendidikan karakter. Hal tersebut ditunjukkan dengan menghadiri kegiatan bedah buku bertajuk “Sistem Model dan Corak Pendidikan LDII dalam Platform Profesional Religius dari Sabang sampai Merauke” yang diselenggarakan DPW LDII Jawa Timur di Auditorium UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, pada Minggu pagi (10/5).
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran DPD LDII Kabupaten/Kota se-Jawa Timur, tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), akademisi, unsur kepolisian, hingga berbagai elemen masyarakat. Forum itu menjadi ruang dialog mengenai penguatan pendidikan Islam modern yang menitikberatkan keseimbangan ilmu pengetahuan, agama, dan pembentukan karakter.
Ketua Ponpes Wali Barokah Kediri KH. Sunarto menuturkan, kehadirannya menjadi simbol sinergi antara lembaga pendidikan pesantren dengan visi besar organisasi dalam menjawab tantangan krisis moral dan persaingan global yang semakin ketat.
Dalam kesempatan tersebut, KH. Sunarto memberikan pandangannya mengenai relevansi model pendidikan “Profesional Religius” yang diterapkan di pesantren dalam lingkup yang lebih luas.
“Kehadiran kami di sini adalah bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan sistem pendidikan yang komprehensif. Di Ponpes Wali Barokah, kami terus berupaya menyelaraskan antara kemandirian intelektual dan kedalaman spiritual. Pendidikan karakter bukan sekadar teori di kelas, melainkan praktik budaya hidup sehari-hari agar santri siap menghadapi persaingan global tanpa kehilangan jati diri sebagai hamba yang bertakwa,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterbukaan LDII terhadap kajian akademik melalui bedah buku ini merupakan langkah maju untuk menyempurnakan pola pembinaan umat.
“Kami sepakat bahwa pendidikan adalah proses sepanjang hayat. Dengan adanya bedah buku hasil riset akademisi ini, kita bisa melihat potret objektif sejauh mana efektivitas pola pembinaan kita di lapangan dan bagaimana terus meningkatkannya demi kepentingan bangsa,” pungkasnya.
Tak lupa ia mengapresiasi pelaksanaan bedah buku yang dinilai memberikan wawasan penting mengenai pengembangan pendidikan berbasis karakter dan nilai keagamaan.
“Di tengah derasnya arus digitalisasi dan tantangan moral generasi muda, pendidikan harus mampu menjadi benteng karakter sekaligus menyiapkan generasi yang profesional dan religius. Kami melihat konsep pendidikan LDII ini sangat relevan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia ke depan,” ujarnya.
Harapan ke depan, sinergi antarormas Islam dan lembaga pendidikan menjadi faktor penting dalam menjaga persatuan umat sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan nasional.
“Kegiatan seperti ini sangat baik karena menghadirkan ruang dialog dan kolaborasi antar elemen umat. Harapannya, pendidikan Islam semakin mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai akhlak dan kebangsaan,” tambahnya.
Ketua DPW LDII Jatim KH. Moch. Amrodji Konawi, dalam sambutannya menekankan bahwa kolaborasi antarormas dan lembaga pendidikan seperti Ponpes Wali Barokah sangat penting untuk menjaga persatuan umat.
LDII ingin memastikan bahwa generasi masa depan memiliki “Tri Sukses” sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Generasi yang akan datang diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kekuatan moral, spiritual, dan karakter kebangsaan.
“Pendidikan harus mampu melahirkan sumber daya manusia yang profesional sekaligus religius agar mampu menghadapi persaingan global dan tantangan krisis moral generasi muda. Kami ingin melahirkan generasi yang bukan hanya pintar, tetapi juga memiliki akhlak, disiplin, tanggung jawab, dan cinta terhadap bangsa,” ujarnya.
Bedah buku tersebut menghadirkan Dr. Ahmad Ali, M.Ag sebagai narasumber utama yang memaparkan hasil riset mengenai sistem pendidikan LDII di berbagai wilayah Indonesia. Forum berlangsung hangat dan interaktif, sekaligus memperlihatkan komitmen organisasi keagamaan dalam membangun pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Juga menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi hingga tokoh ormas Islam. Antara lain Ketua Lembaga Dakwah PBNU Dr. KH. Abdullah Syamsul Arifin atau yang akrab disapa Gus Aab, Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Timur sekaligus Staff Ahli Kemendikdasmen Prof. Dr. Biyanto, Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Akh. Muzakki.










