Kediri (18/9) — Keberkahan harta menjadi kunci utama kebahagiaan dan ketenteraman hidup seorang muslim, baik di dunia maupun di akhirat. Hal tersebut ditegaskan oleh Penasehat Jumat, Ustadz Much. Jabinil Azhar Shiddiq, dalam penyampaian nasihat agama sesudah khutbah Jumat.
Mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
“Yamhaqullahu ar-riba wa yurbi ash-shadaqat”
(Allah menghapus keberkahan dari riba dan mengembangkan sedekah).
Ustadz Much. Jabinil Azhar Shiddiq menjelaskan bahwa harta dari hasil riba tidak akan pernah membawa keberkahan. Meskipun secara kasatmata jumlahnya terlihat melimpah, harta tersebut tidak memberikan kebaikan hakiki bagi pemiliknya.
Apa Itu Keberkahan Harta?
Secara bahasa dan makna agama, barokah diartikan sebagai katsratul khair, yaitu banyaknya atau tumbuhnya kebaikan.
“Ketika harta tidak barokah, meskipun jumlahnya melimpah, ada saja hal yang membuat harta tersebut hilang tanpa memberi manfaat. Contohnya, pemiliknya sering sakit-sakitan, atau Allah mengujinya dengan musibah sehingga harta tersebut habis dalam waktu singkat,” ujar Ustadz Jabinil.
Beliau juga mengingatkan bahwa dampak dari ketidakberkahan harta tidak berhenti pada diri sendiri, melainkan dapat merembet kepada anak, istri, dan keluarga tercinta.
Bentuk-Bentuk Transaksi dan Pekerjaan Haram yang Harus Dijauhi
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Much. Jabinil Azhar Shiddiq memaparkan beberapa praktik kecurangan dan transaksi haram yang kerap dijumpai dalam kehidupan sehari-hari:
- Al-Ghisy (Menipu dalam Jual Beli):Menyembunyikan cacat barang agar cepat laku. Dosa ini menjadi kian berat apabila penjual menggunakan sumpah palsu untuk meyakinkan pembeli.
- Curang dalam Timbangan dan Takaran:Memodifikasi timbangan konvensional maupun digital. Rasulullah SAW justru menganjurkan untuk melebihkan sedikit timbangan (nangeti dalam istilah Jawa) sebagai bentuk kebaikan.
- Menjual Barang Haram:Berdasarkan kaidah fiqih “Ma hurrima akluhu hurrima bay’uhu” (Apa yang haram dimakan, maka haram pula diperjualbelikan), seperti menjual daging babi, anjing, khamr, maupun melacurkan diri.
- Ar-Risywah (Suap-Menyuap):Rasulullah SAW melaknat baik pemberi maupun penerima suap (La’anallahu ar-rashi wal-murtashi).
- Memakan Harta Anak Yatim:Peringatan keras bagi pengasuh maupun pengelola yayasan agar tidak memanfaatkan harta anak yatim untuk kepentingan pribadi.
- As-Sariqah (Mencuri) dan Ghasab:Mengambil atau merampas hak orang lain secara paksa, termasuk menunda pembayaran utang padahal sudah mampu (Mathlul ghaniyyi zulmun).
Gelorakan Jiwa Kemandirian Sejak Muda
Menanggapi anggapan keliru masyarakat bahwa “mencari pekerjaan haram saja sulit, apalagi yang halal”, Ustadz Jabinil menekankan agar umat Islam membuang jauh-jauh pola pikir tersebut.
“Lebih baik bekerja dengan penghasilan sedikit tetapi halal dan barokah, daripada berpenghasilan melimpah tetapi haram. Tentu yang paling utama adalah berpenghasilan banyak, halal, dan penuh keberkahan. Semoga kita menjadi agniya’ (orang kaya) yang barokah,” tuturnya.
Guna mencapai hal tersebut, beliau mengajak para jemaah—khususnya generasi muda di pondok pesantren—untuk mengasah kemandirian melalui berbagai keterampilan nyata (life skills). Keterampilan teknis seperti memotong rambut, kelistrikan, IT, hingga mengemudi dapat menjadi bekal mencari ma’isyah (penghidupan) yang halal di masa depan.
“Bagi yang suka mencukur, silakan dikembangkan. Gunakan kesempatan di pondok untuk belajar. Kemampuan teknis ini kelak sangat berguna untuk menopang kemandirian rezeki yang halal,” tambahnya.
Empat Ancaman Konsumsi Harta Haram
Di akhir nasihatnya, Ustadz Jabinil mengingatkan empat bahaya besar bagi orang yang nekat mengonsumsi atau menggunakan harta haram:
- Doa Ditolak Allah SWT: Makanan, minuman, dan pakaian yang haram menjadi penghalang tersampaikannya doa kepada Allah.
- Hilangnya Keberkahan: Harta terasa sia-sia dan memicu berbagai musibah serta penyakit.
- Sedekah Tidak Diterima: Sedekah dalam jumlah sebanyak apa pun tidak akan diterima jika bersumber dari harta yang haram.
- Mendapat Laknat dan Ancaman Neraka:Rasulullah SAW bersabda:“La yadkhulul jannata lahmun nabata min suhtin, an-naru aula bihi”(Tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram; neraka lebih berhak atasnya).
Mari kita lebih berhati-hati dalam memilih pekerjaan dan menjemput rezeki. Jangan hanya tergiur oleh besarnya nominal, tetapi pastikan kesucian dan kehalalannya agar hidup selamat di dunia dan akhirat.










