Kediri (6/2) — Dalam nasihat Jumat yang disampaikan pada Jumat, 6 Februari 2026, di Masjid Baitul A’la, Penasihat Bambang Edi Suharto, Lc. menyampaikan pesan-pesan penting tentang puasa dan amalan di bulan Ramadan. Puasa ditegaskan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebagai sarana pembinaan diri agar terbentuk pribadi yang berakhlak mulia, tenang, dan semakin bertakwa kepada Allah SWT.
Salah satu pesan utama yang disampaikan adalah agar setiap muslim meninggalkan perbuatan yang menyakiti orang lain. Jangan sampai ibadah puasa ternodai oleh sikap zalim, merugikan, atau menyakiti sesama, bahkan terhadap pelayan sekalipun. Puasa sejatinya mengajarkan kepekaan hati, empati sosial, dan pengendalian diri dalam bersikap maupun bertutur kata.
Selain menjaga akhlak, orang yang berpuasa juga dituntut untuk menumbuhkan ketenangan dalam dirinya. Ketenangan hati, ketenangan sikap, serta kesederhanaan dalam beraktivitas menjadi ciri puasa yang benar. Dalam nasihat tersebut disampaikan petunjuk dari Sahabat Ja‘far bahwa orang yang berpuasa hendaknya mengurangi aktivitas duniawi yang berlebihan dan lebih memfokuskan diri pada upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Momentum Ramadan seharusnya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal ibadah, seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan meningkatkan pemahaman agama, sehingga keimanan dan ketakwaan semakin kuat.
Puasa tidak boleh berlalu tanpa perubahan. Jangan sampai keadaan orang yang berpuasa sama dengan orang yang tidak berpuasa, tanpa adanya peningkatan kefahaman dan ketakwaan. Pesan Sahabat Ja‘far ini menjadi isyarat agar selama bulan Ramadan terjadi pertumbuhan spiritual dalam diri setiap muslim. Semakin bertambah pemahaman agama, semakin tebal ketakwaan, dan semakin dekat pula seorang hamba kepada Allah SWT.
Keberhasilan puasa ditandai dengan terbentuknya ketenangan hati dan sikap, berkurangnya perbuatan sia-sia, serta meningkatnya kedekatan kepada Allah SWT. Puasa yang sukses adalah puasa yang mampu membentuk pribadi yang lebih sabar, tenang, dan taat dalam menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.
Keberhasilan Ramadan juga tercermin dalam pelaksanaan sholat tarawih. Sholat tarawih merupakan sholat malam (qiyamul lail) yang dikerjakan khusus pada bulan Ramadan. Barang siapa yang melaksanakan sholat malam di bulan Ramadan dengan dasar iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Sholat tarawih dapat dikerjakan berjamaah di masjid, di rumah bersama keluarga, maupun secara sendiri. Namun, berjamaah di masjid memiliki keutamaan yang lebih utama. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang melaksanakan sholat tarawih bersama imam hingga selesai, maka dicatat baginya pahala sholat satu malam penuh. Padahal durasi sholat tarawih relatif singkat, namun pahalanya setara dengan sholat semalam suntuk. Oleh karena itu, jamaah dianjurkan untuk istiqamah mengikuti sholat tarawih berjamaah sepanjang bulan Ramadan.
Ramadan juga dikenal sebagai Syahrul Qur’an, bulan Al-Qur’an, karena pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Allah SWT berfirman, “Syahrur Ramadhan alladzi unzila fihil Qur’an.” Pada bulan Ramadan, Nabi Muhammad SAW sangat bersungguh-sungguh dalam membaca Al-Qur’an. Bahkan Malaikat Jibril mendatangi Nabi setiap malam untuk tadarus dan menyimak bacaan beliau. Teladan ini sepatutnya diikuti oleh umat Islam dengan memperbanyak tilawah Al-Qur’an, baik secara pribadi maupun berjamaah di masjid. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah untuk membaca dan saling menyimak Al-Qur’an, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, rahmat Allah meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah membanggakan mereka di hadapan para malaikat-Nya. Oleh karena itu, bulan Ramadan menjadi momentum terbaik untuk mengkhatamkan Al-Qur’an, minimal satu kali sesuai kemampuan.
Amalan penting lainnya yang dianjurkan adalah i’tikaf. I’tikaf merupakan aktivitas menetap di masjid untuk memperbanyak ibadah, baik siang maupun malam, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT serta mencari keutamaan malam Lailatul Qadr. Barang siapa yang beribadah pada malam Lailatul Qadr dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Satu malam Lailatul Qadr lebih baik daripada ibadah seribu bulan. Nabi Muhammad SAW memberi teladan dengan melaksanakan i’tikaf penuh selama sepuluh hari terakhir Ramadan. Dalam praktiknya, umat Islam dapat menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing, yang umumnya dilakukan pada malam hari di sepuluh malam terakhir.
Sebagai penutup rangkaian ibadah Ramadan, umat Islam diwajibkan menunaikan zakat fitrah. Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Zakat fitrah wajib ditunaikan oleh setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak. Zakat fitrah dikeluarkan berupa satu sha’ bahan makanan pokok dan wajib diserahkan sebelum pelaksanaan sholat Idul Fitri. Karena itu, para amil diharapkan memastikan seluruh jamaah telah menunaikan zakat fitrah tepat waktu sebelum berangkat sholat Id.










