Kediri (31/01) — Dalam nasihat Jumat yang disampaikan di Masjid Baitul A’la, Penasihat Daud Soleh mengajak jamaah untuk melakukan refleksi bersama seiring berakhirnya tahun 2025 dan memasuki tahun 2026. Ia menekankan bahwa perjalanan waktu dari masa ke masa bukan sekadar pergantian angka tahun, tetapi momentum untuk memperkuat keimanan di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
Secara duniawi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berlangsung sangat pesat dan nyaris tanpa batas. Berbagai kemudahan hadir dalam kehidupan manusia. Namun demikian, dari sisi agama, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa setiap zaman yang datang setelahnya akan lebih buruk dibandingkan zaman sebelumnya. Artinya, tantangan keimanan dan pemahaman agama justru semakin berat dari tahun ke tahun.
Oleh karena itu, jamaah diingatkan agar tidak terlena oleh kemajuan zaman. Sebaliknya, perkembangan tersebut harus diimbangi dengan upaya serius dalam menjaga keimanan dan meningkatkan kefahaman agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadis. Tanpa pondasi iman yang kuat, kemajuan teknologi justru berpotensi menjadi ujian yang melemahkan nilai-nilai keislaman.
Dalam menghadapi tantangan zaman modern, Daud Soleh menegaskan bahwa teknologi membawa dua sisi, yaitu kemudahan dan tantangan. Arus informasi yang cepat, pergaulan yang semakin luas, serta perubahan nilai sosial menuntut setiap muslim untuk memiliki dasar iman dan ilmu agama yang kokoh agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang menyimpang dari ajaran Islam.
Salah satu upaya penting dalam menjaga keimanan adalah menjadikan mengaji sebagai hobi dan kebutuhan hidup. Mengaji merupakan proses utama transfer ilmu dari guru kepada murid. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim, sementara Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk mengenal dan memahami tauhid. Di lingkungan pondok pesantren, kegiatan mengaji dilaksanakan secara rutin setiap hari, mulai selepas sholat Subuh hingga malam hari, sebagai fondasi utama dalam menjaga iman dan memperkuat pemahaman agama.
Selain itu, jamaah juga diajak untuk membiasakan diri mendengarkan nasihat agama. Nasihat merupakan wujud kepedulian dan keinginan akan kebaikan bagi sesama. Setiap nasihat hendaknya diterima dengan lapang dada dan penuh perhatian, tanpa memandang siapa yang menyampaikan, tetapi berfokus pada pesan dan kebenaran yang disampaikan. Nasihat agama diharapkan menjadi bekal penting dalam menjaga keimanan dan meluruskan pemahaman Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadis.
Upaya berikutnya adalah bergaul dengan orang-orang shalih dan berilmu agama. Pergaulan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sehari-hari. Berada di lingkungan yang baik akan membawa dampak positif, meskipun tingkat pemahaman seseorang belum setara dengan orang-orang shalih tersebut. Sebaliknya, pergaulan yang tidak baik dapat memberikan pengaruh negatif, baik secara langsung maupun tidak langsung. Di era digital, pergaulan juga terjadi melalui media sosial, sehingga diperlukan sikap selektif dalam memilih akun, konten, dan interaksi agar tetap sejalan dengan nilai-nilai Islam.
Selain itu, sikap ridho dalam menetapi aturan juga menjadi bagian penting dalam menjaga keimanan. Ridho, lapang dada, dan senang hati dalam menjalankan aturan yang telah disepakati merupakan wujud ketaatan dan kedewasaan iman. Sikap ini berperan dalam menjaga ketertiban, kebersamaan, serta keberlangsungan nilai-nilai agama dalam kehidupan bermasyarakat.
Menutup nasihatnya, Daud Sholeh menyampaikan bahwa keempat upaya tersebut merupakan ikhtiar bersama untuk meningkatkan keimanan dan menjaga kefahaman agama di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks. Ia berharap semoga Allah SWT senantiasa memberikan manfaat, kelancaran, dan keberkahan atas setiap usaha yang dilakukan oleh kaum muslimin dalam menjaga agama-Nya.










