Kediri (26/12) — Dalam nasihat Jumat yang disampaikan di Masjid Baitul A’la Pondok Pesantren Wali Barokah, Penasihat Mifta Khuddin Mubarok, S.Pd., Ustadz Pondok Pesantren Wali Barokah, mengingatkan jamaah agar setiap amal senantiasa diniatkan dengan ikhlas lillāhi ta‘ālā. Ia menegaskan bahwa surga, rahmat, dan siksa sepenuhnya merupakan milik Allah. Oleh karena itu, seorang hamba hendaknya beramal dengan penuh harap akan rahmat-Nya dan rasa takut terhadap azab-Nya, sebagaimana doa yang senantiasa dipanjatkan: “Yarjūna raḥmatahū wa yakhāfūna ‘adzābah.”
Ustadz Mifta Khuddin Mubarok juga mengingatkan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman, “Kullu nafsin dzāiqatul maut”, yang bermakna bahwa setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Ada yang dipanggil Allah di usia muda dan ada pula di usia tua. Semua itu menjadi peringatan agar setiap insan senantiasa melakukan introspeksi diri serta mempersiapkan bekal terbaik sebelum menghadap Allah.
Rasulullah ﷺ dalam hadis sahih riwayat Muslim bersabda, “Perbanyaklah mengingat sesuatu yang memutus kenikmatan, yaitu kematian.” Setiap kali mendengar kabar kematian, hendaknya hal tersebut menjadi cermin untuk menilai sejauh mana amal yang telah dilakukan dan apa yang telah dipersiapkan untuk kehidupan akhirat.
Lebih lanjut disampaikan bahwa umat Islam saat ini hidup di akhir zaman. Menjelang berakhirnya tahun 2025 dan memasuki tahun 2026, tanda-tanda akhir zaman semakin nyata. Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa setiap zaman yang datang akan lebih buruk dari sebelumnya, baik dari sisi moral, akhlak manusia, maupun semangat generasi muda dalam menuntut ilmu agama. Berbagai bentuk kemungkaran seperti korupsi, kekerasan, narkoba, hingga kejahatan seksual menjadi bukti rusaknya akhlak dan adab di tengah masyarakat.
Dalam nasihatnya, ditegaskan bahwa ilmu sejatinya harus melahirkan akhlakul karimah. Ilmu tanpa akhlak diibaratkan seperti pohon tanpa buah, yang tidak memberi manfaat. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Bahkan dalam kitab-kitab hadis utama, pembahasan kitābul adab diletakkan sebagai penutup, yang menunjukkan bahwa puncak dari ilmu adalah adab.
Salah satu teladan akhlak mulia yang disampaikan adalah kisah kejujuran seorang anak perempuan penjual susu pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallāhu ‘anhu. Kejujuran tersebut menjadi sebab lahirnya Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang dikenal adil dan mulia. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā pun memerintahkan kejujuran dalam firman-Nya pada Surah At-Taubah ayat 119, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah orang-orang yang jujur.”
Nasihat Jumat tersebut ditutup dengan pengingat bahwa pusat dari baik dan buruknya amal adalah hati. Jamaah diajak untuk jujur kepada diri sendiri, memperbaiki kekurangan selama proses pembinaan dan pendidikan, serta terus meningkatkan iman dan amal saleh. Ustadz Mifta Khuddin Mubarok juga memohon maaf atas segala kekurangan dan mendoakan agar seluruh jamaah menjadi hamba-hamba Allah yang beriman, jujur, berakhlak mulia, bertakwa, serta wafat dalam keadaan ḥusnul khātimah.










