Jakarta (9/4). Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah Kota Kediri menegaskan komitmennya dalam membangun sumber daya manusia (SDM) yang tangguh dan berkarakter guna menghadapi tantangan global. Hal ini ditegaskan menyusul pembekalan dari Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Transformasi Ekonomi Kemenko PMK RI, Prof. Dr. Ir. Warsito, S.Si., M.T., dalam ajang Munas X LDII di Jakarta, pada Kamis pagi (9/4).
Dalam paparannya, Prof. Warsito menekankan pentingnya stabilitas dan resiliensi (daya tahan) bangsa di tengah disrupsi teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) dan dinamika geopolitik. Ia menyebut ada lima ekosistem kunci dalam membangun SDM unggul, yakni keluarga, masyarakat, institusi pendidikan, tempat ibadah, dan ruang digital.
“Karakter dan jati diri bangsa adalah pilar utama. Kita harus memiliki kemampuan untuk bertahan menghadapi guncangan, beradaptasi dengan perubahan, dan bangkit kembali,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa teknologi bukan untuk ditakuti, melainkan harus dimanfaatkan sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing manusia.
“Teknologi adalah alat, bukan pengganti manusia. Yang menentukan tetap manusia itu sendiri, bagaimana kita menguasai dan memanfaatkannya,” ujarnya.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya membangun resiliensi manusia dan budaya, yaitu kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit di tengah perubahan.
Menurutnya, resiliensi tersebut harus ditopang oleh karakter yang kuat, identitas budaya yang kokoh, serta kemampuan literasi digital yang baik. Ia juga menekankan pentingnya penguatan lima ekosistem utama, yakni keluarga, masyarakat, institusi pendidikan, tempat ibadah, dan ruang digital.
“Ketahanan manusia dan budaya tidak bisa dibangun secara parsial. Harus dimulai dari keluarga, diperkuat di masyarakat dan pendidikan, serta dijaga dalam ruang digital,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki peluang besar menuju Indonesia Emas 2045, dengan indikator utama seperti rendahnya tingkat pengangguran, meningkatnya kualitas pendidikan, pertumbuhan ekonomi yang merata, serta kesehatan masyarakat yang baik.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Ponpes Wali Barokah, H. Agung Riyanto menyatakan bahwa pesantren memiliki peran vital dalam menerjemahkan visi pemerintah tersebut melalui kurikulum pendidikan karakter yang aplikatif.
“Kami di Ponpes Wali Barokah menyadari bahwa resiliensi bukan sekadar bertahan, tapi bagaimana santri mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Pesantren berkomitmen memperkuat karakter berbasis nilai-nilai luhur guna menjawab tantangan ekonomi dan sosial di masa depan. Fokus kami adalah memastikan para santri memiliki kemandirian dan integritas yang kuat, sehingga mereka siap menjadi bagian dari penduduk produktif yang berkualitas saat Indonesia mencapai usia emas di tahun 2045,” ungkapnya.
Ia menilai materi yang disampaikan sangat relevan dengan pembinaan santri di era modern.
“Apa yang disampaikan sangat penting bagi dunia pesantren. Kami di Ponpes Wali Barokah terus berupaya membentuk santri yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga tangguh menghadapi perubahan zaman, termasuk dalam penguasaan teknologi dan penguatan karakter,” ujarnya.
Senada dengan itu, Sekretaris Ponpes Wali Barokah, Daud Soleh menggarisbawahi pentingnya penguasaan literasi digital dan etika teknologi bagi para santri sebagai bagian dari transformasi pendidikan di lingkungan pesantren.
“Sebagaimana disampaikan Prof. Warsito mengenai tantangan digital, Ponpes Wali Barokah terus berupaya menyeimbangkan antara pendidikan agama yang kuat dengan literasi teknologi,” ujarnya.
“Teknologi adalah alat, bukan pengganti peran manusia. Kami mendidik santri agar memiliki etika digital yang baik (digital citizenship), sehingga mereka tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga mampu menyaring informasi hoaks dan radikalisme. Inilah wujud kontribusi pesantren dalam membangun masyarakat digital yang berbudaya dan toleran,” imbuhnya.
Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara nilai keagamaan dan kemampuan adaptasi terhadap perkembangan global.
“Resiliensi yang dimaksud bukan hanya kemampuan bertahan, tetapi juga kemampuan beradaptasi dan bangkit. Di Ponpes Wali Barokah, kami mendorong santri untuk memiliki akhlak yang kuat, literasi digital yang baik, serta kesiapan menghadapi tantangan global tanpa meninggalkan jati diri keislaman,” jelasnya.









