Saya ingin memberikan apresiasi yang tinggi kepada Kabupaten Jombang. Di luar FKUB ini di Kediri ada Paguyuban, antar umat beragama dan penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, justru yang ngomendani itu Piantun Jombang, Gus Solahudin. Ini karena beliau juga sangat familiar dengan kita, karena beliau sebagai Ketua Pemprov untuk Persilatan, sehingga kami sering ketemu dengan beliau, dan sering kita undang. Ini satu hal yang patut kami apresiasi, dan terlepas dari itu semua, saya bersyukur pada hari ini diberi kepercayaan oleh pemerintah Kabupaten Jombang, melalui Bapak Wakil Bupati yang dalam hal ini diwakili oleh Bapak Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Jombang, beserta seluruh jajaran pengurus FKUB yang meminta kami untuk dijadikan Tuan Rumah. Kegiatan semacam ini bukan yang pertama, dan insya Allah bukan yang terakhir. Pada sekitar tahun 2010, saya sedikit matur saja, bahwa ketika FKUB Kota Kediri dulu belum mendapatkan support yang memadai, baik dari aspek kepengurusan, kesekretariatan, dan pendanaan, selalu saja yang dijujukan adalah Pondok Wali Barokah. Itu satu kebanggaan saya, dan sekaligus memotivasi kami, kalau saya hitung jumlahnya puluhan, baik FKUB Provinsi, Kabupaten Kota, dari berbagai daerah. Yang sangat mengesankan, agak lama tapi terkesan sekali, adalah kunjungan, dari FKUB DKI Jakarta, yang ketika itu masih berstatus DKI. Sebelum ada undang-undang tentang pergantian status daerah khusus Ibu Kota menjadi daerah Ibu Kota. Daerah khusus saja, Jakarta, DKJ. Beliau membawa rombongan besar. Dan Alhamdulillah, Pondok dengan sigap, bisa memfasilitasi sampai kunjungan ke rumah-rumah ibadah di luar Islam. Ini semuanya dapat difasilitasi dengan sebaik-baiknya. Ini satu contoh dan yang paling agak baru, tetapi tidak baru sama sekali dari Sukoharjo, Jawa Tengah. Beberapa waktu yang lalu juga pernah berkunjung secara khusus di pesantren ini. Tentu ini bukan karena ada kelebihan di Pondok Wali Barokah, tidak. Tetapi ada sesuatu yang barangkali membuat mereka tertarik. Karena pemberitaan media sosial yang begitu masif, ingin kiranya datang lebih dekat. Tetapi paling tidak memang pada sekitar tahun 2017 hingga tahun 2018, Pondok ini memprakarsai, menginisiasi yang namanya PLTS Rooftop. Rooftop dan Hybrid. Kalau rooftop, barangkali tidak terlalu membuat kita ini agak bertanya-tanya. Tetapi Hybrid memperpadukan antara sumber dari PLN, di satu pihak, dengan tenaga Surya di lain pihak. Dan Insyaallah kami bersyukur, menurut bincang-bincang yang saya dengar, Bapak-bapak dari Jombang itu juga ingin melihat dari dekat tentang keberadaan PLTS. Kemudian, secara administratif, Pondok Pesantren ini ada di dua wilayah kelurahan, yang bertetangga, beririsan, satu dengan yang lain, yang berbeda kecamatan. Berada di Kelurahan Burengan, yang Alhamdulillah oleh Pemerintah Kota Kediri dinobatkan sebagai Kampung Moderasi. Nah, dengan begitu, keberadaan kami tentu ingin memberikan support yang semaksimal mungkin, mulai dari tingkat RT, RW, sampai Kelurahan dan bahkan kecamatan, termasuk Pemerintah Kota. Ini justru dengan kehadiran Bapak-bapak dari pengurus FKUB, dari berbagai daerah itu, mendorong kami untuk lebih memberikan kontribusi positif bagi upaya untuk merajut kerukunan dan kekompakan diantara kita, para umat beragama, dan termasuk juga komunikasi yang intensif, kolaborasi dengan Pemerintah Daerah Kota Kediri. Dan yang paling akhir, kami merasa bersyukur, karena ditunjuk beberapa waktu lalu sebagai tempat untuk launching Posyandu ILP Se-Kota Kediri. Jadi kami ketamuan yang namanya ketua-ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Desa atau Kelurahan, Kelurahan karena di kota, dan juga tenaga-tenaga medis dan yang baru saja, insya Allah beberapa bulan lalu, kok rawaleh-waleh. Pemerintah kota itu menunjuk kembali kami untuk mengikuti lomba pesantren sehat, dan Alhamdulillah mendapat juara 3 untuk tingkat Provinsi.
Ini adalah wujud komitmen kita bersama, bahwa kerukunan dan kekompakan itu bukan harus berupa slogan komitmen yang tanpa makna, kita ingin memberikan kontribusi walaupun sekecil apapun. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Karena itu inilah yang ada di pondok kami, dan dihadapan bapak-bapak ada buku, sepintas ini kegiatan-kegiatan pondok, dan ada majalah nuansa dari DPP LDII yang mengupas intoleransi ancaman demokrasi.










