Kediri (6/4) — Pada Jum’at, 3 April 2026, nasihat Jumat yang disampaikan oleh Ust. H. Bambang Edi Suharto mengangkat tema Ad-Du’a atau pentingnya berdoa kepada Allah. Dalam penyampaiannya, beliau mengingatkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang lemah, fakir, dan penuh keterbatasan.
Ia menegaskan, meskipun manusia memiliki harta, ilmu, dan kekuatan, semua itu tidak akan mampu mencukupi kebutuhan hidup tanpa pertolongan Allah. “Doa bukan sekadar permintaan, tetapi merupakan bentuk ibadah yang menunjukkan pengakuan seorang hamba atas kelemahannya dan keyakinannya kepada Allah,” ujarnya di hadapan jamaah.
Doa sebagai Bentuk Ibadah
Dalam penjelasannya, Ust. Bambang Edi Suharto menyampaikan bahwa doa adalah inti ibadah. Melalui doa, seorang mukmin mengakui kelemahannya, menampakkan ketergantungannya kepada Allah, serta meyakini bahwa hanya Allah yang mampu memberi segala sesuatu.
Karena itu, jamaah dianjurkan untuk senantiasa memperbanyak doa dalam segala keadaan, baik untuk urusan kecil maupun besar, dunia maupun akhirat.
Syarat Dikabulkannya Doa
Lebih lanjut, ia menjelaskan beberapa syarat agar doa dapat dikabulkan. Pertama, doa harus ditujukan hanya kepada Allah semata. Meminta kepada selain-Nya diibaratkan seperti orang yang ingin minum air hanya dengan melambaikan tangan dari kejauhan, yang tidak akan pernah berhasil.
Kedua, seseorang harus menjaga kehalalan dalam kehidupannya, baik dari segi makanan, minuman, maupun pakaian. Ia mengingatkan bahwa doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh bisa saja tidak dikabulkan apabila seseorang hidup dari hal-hal yang haram.
Adab dalam Berdoa
Dalam nasihat tersebut juga disampaikan adab-adab dalam berdoa agar lebih dekat dengan pengabulan. Di antaranya mengangkat kedua tangan, mengusap wajah setelah berdoa, memulai dengan pujian kepada Allah serta sholawat kepada Nabi, dan menghadirkan hati dengan penuh kekhusyukan.
Selain itu, jamaah diingatkan untuk memiliki keyakinan kuat bahwa doa akan dikabulkan serta tidak tergesa-gesa dalam menanti hasilnya. Sikap putus asa justru dapat menjadi penghalang terkabulnya doa.
Ust. Bambang juga menyinggung pentingnya berdoa dengan menyebut Asmaul Husna serta bertawassul dengan amal sholeh. Ia mencontohkan kisah tiga orang yang terperangkap di dalam gua yang akhirnya diselamatkan berkat doa yang disertai amal kebaikan mereka.
Perbanyak Doa di Segala Keadaan
Menurutnya, seorang mukmin tidak hanya berdoa saat menghadapi kesulitan, tetapi juga ketika dalam kondisi lapang, sehat, dan berkecukupan. Kebiasaan berdoa dalam keadaan baik akan menjadi sebab dikabulkannya doa ketika berada dalam kesempitan.
Waktu Mustajab untuk Berdoa
Dalam nasihatnya, ia juga menyampaikan beberapa waktu yang mustajab untuk berdoa, antara lain sepertiga malam terakhir, setelah sholat lima waktu, di antara adzan dan iqamah, serta pada hari Jumat khususnya antara waktu Ashar hingga Maghrib.
“Memanfaatkan waktu-waktu tersebut adalah kesempatan besar bagi setiap hamba untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah,” jelasnya.
Penutup
Sebagai penutup, ia mengutip firman Allah dalam Al-Baqarah yang menegaskan bahwa Allah dekat dengan hamba-Nya dan akan mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Nya. Hal ini menjadi jaminan bagi setiap mukmin selama ia tetap beriman dan taat.
Nasihat ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi seluruh jamaah untuk terus memperkuat hubungan dengan Allah melalui doa dalam setiap aspek kehidupan.









