Kediri (31/7) – Berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) merupakan salah satu amalan yang memiliki kedudukan sangat tinggi dalam Islam. Selain menjadi perintah langsung dari Allah Swt., berbakti kepada orang tua juga menjadi sebab datangnya keberkahan hidup, keluasan rezeki, serta keridaan Allah.
Hal tersebut disampaikan Ust. Falih Ahmad Alfahmi saat menyampaikan kembali ringkasan khutbah Jumat yang dibawakan oleh H. Sabila Roshada. Dalam nasehatnya, ia mengajak jamaah untuk menjadikan birrul walidain sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, baik ketika orang tua masih hidup maupun setelah mereka wafat.
“Allah menggandengkan perintah untuk beribadah hanya kepada-Nya dengan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua. Hal ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan birrul walidain dalam Islam,” jelas Ust. Falih.
Ia menerangkan bahwa Al-Qur’an memerintahkan setiap muslim untuk menghormati dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Bahkan, kewajiban tersebut tetap berlaku meskipun orang tua belum beriman, selama mereka tidak mengajak kepada kemaksiatan atau kesyirikan. Dalam kondisi demikian, seorang anak tidak diperbolehkan menaati ajakan tersebut, namun tetap diwajibkan memperlakukan kedua orang tuanya dengan penuh kebaikan.
Menurutnya, berbakti kepada orang tua dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk sederhana yang dilakukan setiap hari. Mulai dari bertutur kata dengan lembut, tidak meninggikan suara, membantu memenuhi kebutuhan mereka, melayani dengan penuh kasih sayang, hingga berusaha membahagiakan hati kedua orang tua.
Ia juga mengingatkan hadis Rasulullah ﷺ tentang seorang sahabat yang hendak berhijrah namun meninggalkan kedua orang tuanya dalam keadaan menangis. Rasulullah ﷺ justru memerintahkannya untuk kembali dan membahagiakan kedua orang tuanya. Hadis tersebut menunjukkan bahwa menjaga kebahagiaan orang tua memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah.
Selain itu, Ust. Falih mengutip sabda Rasulullah ﷺ yang menyatakan bahwa “Ridha Allah bergantung pada ridha kedua orang tua dan murka Allah bergantung pada murka kedua orang tua.” Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya selalu berusaha mencari keridaan orang tua selama tidak bertentangan dengan syariat.
Dalam nasehat tersebut juga dijelaskan bahwa berbakti kepada orang tua termasuk amalan yang paling dicintai Allah. Rasulullah ﷺ menempatkan birrul walidain setelah salat tepat pada waktunya ketika ditanya mengenai amal yang paling utama.
Tidak hanya itu, Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa seseorang yang ingin dipanjangkan umurnya dan dilapangkan rezekinya hendaknya senantiasa berbakti kepada kedua orang tua serta menjaga tali silaturahmi. Keberkahan umur dan rezeki tersebut tidak hanya diukur dari banyaknya usia maupun harta, tetapi juga manfaat dan keberkahannya dalam kehidupan.
Sebaliknya, durhaka kepada kedua orang tua termasuk dosa besar yang ancamannya sangat berat. Rasulullah ﷺ menyebut durhaka kepada orang tua setelah dosa syirik kepada Allah, bahkan sebelum dosa membunuh dan memberikan kesaksian palsu. Dalam hadis lain dijelaskan bahwa balasan bagi pelaku durhaka dapat disegerakan oleh Allah ketika masih hidup di dunia.
Lebih lanjut, Ust. Falih menegaskan bahwa bakti kepada orang tua tidak berhenti ketika keduanya telah meninggal dunia. Seorang anak tetap dapat berbakti dengan mendoakan dan memohonkan ampun untuk kedua orang tuanya, menunaikan janji yang belum terlaksana, memuliakan sahabat-sahabat mereka, serta menjaga hubungan silaturahmi dengan keluarga dari pihak ayah maupun ibu.
Menutup nasehatnya, Ust. Falih mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan kesempatan selama orang tua masih hidup dengan memberikan perhatian, pelayanan, dan kasih sayang terbaik. Sementara bagi yang orang tuanya telah wafat, hendaknya tidak berhenti mengirimkan doa serta meneruskan amal-amal kebajikan yang dapat menjadi bentuk bakti kepada mereka.
“Semoga Allah Swt. menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa berbakti kepada kedua orang tua, memperoleh ridha-Nya, serta diberikan keberkahan hidup di dunia dan akhirat,” pungkasnya.









